Demo besar-besaran yang harusnya jadi suara rakyat malah ditutup rapat dari layar TV. Seakan-akan kalau nggak ditayangin berarti nggak ada. Padahal di jalanan ada yang terluka, bahkan ada yang tewas. Media diam, pejabat senyum, rakyat makin muak. Kita dipaksa percaya dunia palsu versi televisi, sementara kebenaran cuma bisa ditemukan di TikTok, Instagram, dan Threads.
Dan yang paling bikin hati rakyat hancur: seorang ojol tewas dilindas kendaraan taktis polisi saat demo. Satu nyawa rakyat kecil melayang, sementara aparat cuma minta maaf di depan kamera. Pola lama yang kita semua hafal: minta maaf → janji evaluasi → kasus menguap. Bedanya, kali ini ada keluarga yang kehilangan tulang punggung, ada anak yang kehilangan ayah. Apa itu juga cuma angka di laporan, Pak?
Intinya sederhana: rakyat cuma minta hidup layak, harga terjangkau, hukum adil. Tapi entah kenapa, itu terasa lebih mustahil daripada lihat pejabat korupsi benar-benar dipenjara seumur hidup. Pemerintah lupa, negara berdiri bukan karena kursi empuk mereka, tapi karena keringat dan kesabaran rakyat yang mereka remehkan.
Rakyat diminta taat bayar pajak, tapi uangnya entah ke mana. Jalan bolong masih menganga, sekolah banyak yang roboh, rumah sakit antrean kayak terminal. Tapi pejabatnya sibuk bagi-bagi proyek dan fasilitas mewah. Seolah-olah pajak itu bukan buat rakyat, tapi buat membiayai gaya hidup kelas atas yang numpang hidup dari jerih payah orang kecil.
Lucunya, kalau rakyat salah dikit, telat bayar pajak, demo turun ke jalan, atau sekadar protes di medsos, langsung ditindak tegas. Tapi kalau pejabat korupsi triliunan? Jawabannya: “masih diproses, mohon sabar.” Bedanya, rakyat selalu dihukum, pejabat selalu ada alasan. Negara ini keras ke bawah, tapi lembek ke atas.
Komentar
Posting Komentar