Ketika Pesantren Disalahpahami: Suara dari Dalam Pagar

 


   Akhir-akhir ini, dunia maya kembali gaduh. Beberapa media, termasuk salah satu stasiun televisi nasional, menayangkan liputan yang menyinggung kehidupan di pesantren. Mereka berbicara tentang kultur feodalisme, tentang perbudakan, bahkan menuduh sebagian kiai hidup berlimpah harta sementara santrinya hidup serba kekurangan. Nama pesantren besar seperti Lirboyo pun ikut terseret dalam pemberitaan yang terasa dingin dan tidak jujur. Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan pesantren, saya hanya bisa menghela napas panjang. Barangkali mereka terlalu sibuk membuat sensasi sampai lupa belajar memahami.

Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah ruang kehidupan, rumah spiritual, tempat ribuan anak muda menempa diri untuk menjadi manusia seutuhnya. Di sana, kami tidak hanya menghafal kitab, tapi juga belajar tentang adab, kesabaran, dan pengabdian. Setiap fajar, sebelum cahaya benar-benar muncul, suara langkah kaki para santri sudah terdengar menuju masjid. Di sepertiga malam, masih ada cahaya redup dari kamar yang belum tidur karena sedang menelaah kitab kuning dengan sabar. Tidak ada kamera yang merekam, tidak ada lampu studio, tidak ada tepuk tangan penonton. Tapi di sanalah ruh pendidikan Islam hidup dengan keikhlasan yang tak bisa diukur dengan angka.

Bagi sebagian orang luar, kehidupan pesantren tampak keras dan kuno. Makan seadanya, tidur berdesakan, aturan ketat, disiplin tinggi, lalu mereka menyebutnya sistem feodal. Padahal, yang mereka sebut “feodalisme” itu bagi kami adalah adab. Kami diajarkan untuk menghormati guru, karena dari lisan guru mengalir ilmu yang menyambung kepada Rasulullah ﷺ. Kami terbiasa mencium tangan kiai bukan karena takut, tapi karena tahu di tangan itu tersimpan berkah ilmu dan doa. Kalau itu dianggap tunduk, maka biarlah kami disebut tunduk, sebab di situlah kami belajar rendah hati.

Ada juga yang menuding pesantren memperbudak santri. Tuduhan itu lucu sekaligus menyedihkan. Di pesantren, “ngabdi” kepada kiai bukan pekerjaan, tapi pengabdian. Santri membantu membersihkan rumah, menyiapkan air wudhu, memasak, atau menjaga kebersihan lingkungan bukan karena diperintah, tapi karena ingin belajar melayani dengan hati. Kami tahu, melayani guru adalah cara kami mendidik diri: belajar memberi tanpa pamrih. Di dunia luar, orang berlomba mencari bayaran. Di pesantren, kami belajar memberi tanpa menagih balasan. Dan di situlah makna kebebasan yang sesungguhnya, bebas dari kepentingan diri.

Lalu muncul tudingan bahwa kiai hidup bergelimang harta, sementara santrinya hidup sederhana. Tuduhan itu tidak hanya salah, tapi juga kejam. Mereka yang membuat narasi itu mungkin tidak tahu bagaimana kehidupan seorang kiai di balik layar. Banyak dari mereka yang hidup bersahaja, rumahnya sederhana, bajunya tidak mewah, tapi waktunya habis untuk umat. Setiap hari mereka melayani tamu tanpa pamrih, menulis kitab tanpa bayaran, mengajar tanpa kontrak. Kadang mereka menolak pemberian besar karena takut mengurangi keberkahan. Saya pernah melihat seorang kiai menolak amplop dari seorang pejabat dan berkata pelan, “Ilmu tidak dijual, Nak. Ia diwariskan.”

Media tidak akan pernah bisa merekam ketulusan seperti itu, karena keikhlasan tidak bisa difoto. Kamera hanya menangkap kulitnya, tapi ruh pesantren jauh di dalam — tempat di mana keheningan malam berubah jadi doa, dan kesederhanaan berubah jadi kemuliaan. Mereka menyorot yang tampak miskin, padahal di balik kesederhanaan itu tersimpan kekayaan yang tidak terhitung nilainya: ketenangan, kerendahan hati, dan cinta kepada ilmu.

Pesantren bukan tempat mencari nama. Tidak ada yang datang ke pesantren karena ingin terkenal. Kami datang untuk belajar bagaimana menjadi manusia yang berguna. Tidak ada santri yang diikat oleh paksaan. Semua datang dengan niat yang sama: mencari ilmu, mencari ridha Allah. Dan saat kami pulang, kami bawa nilai-nilai yang tak pernah diajarkan di sekolah modern, bagaimana berjuang tanpa pamrih, bagaimana mencintai tanpa memiliki, bagaimana melayani tanpa diminta.

Mereka yang menuduh pesantren feodal mungkin lupa, bahwa masyarakat luar pun hidup dengan sistem penghormatan: ada atasan, ada guru, ada orang tua. Bedanya, di pesantren penghormatan itu dijaga dengan doa, bukan dengan jabatan. Kami tidak memuja manusia, kami menghormati perantara ilmu. Itulah sebabnya, meski dunia berubah, pesantren tetap berdiri tegak. Karena pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, ia adalah peradaban yang menanamkan jiwa.

Mungkin sebagian media lupa, bahwa dari pesantren-pesantren seperti Lirboyo, Tebuireng, Sarang, Sidogiri, dan ribuan lainnya, lahir ulama besar, tokoh bangsa, dan pejuang yang menjaga negeri ini dengan akhlak. Mereka bukan orang yang haus popularitas. Mereka hidup dalam sunyi, tapi doanya mengguncang langit. Mereka tidak membangun gedung tinggi, tapi membangun manusia. Dan manusia yang lahir dari pesantren punya satu ciri khas: hatinya lembut, tapi keyakinannya kuat.

Jadi, sebelum menuduh pesantren feodal atau menulis headline tentang “perbudakan santri”, datanglah lebih dekat. Duduklah sejenak di serambi masjid saat subuh, dengarkan suara para santri melantunkan wirid dengan lembut, lihat bagaimana mereka berbagi satu piring nasi tanpa mengeluh. Di situ, kalian akan paham bahwa yang disebut “perbudakan” itu sebenarnya pengabdian; yang disebut “feodalisme” itu sebenarnya adab; dan yang kalian kira kemiskinan itu sesungguhnya kekayaan hati yang tidak kalian miliki.

Pesantren bukan masa lalu. Ia adalah akar dari masa depan bangsa. Dan selama masih ada kiai yang ikhlas mengajar tanpa bayaran, selama masih ada santri yang rela bangun di sepertiga malam untuk menimba ilmu, maka tak ada berita, tak ada narasi, dan tak ada tayangan apa pun yang bisa meruntuhkan kehormatan pesantren. Karena pesantren berdiri bukan di atas sensasi, tapi di atas doa dan keberkahan.

Komentar